• image
  • image
  • image
  • image

Artikel

Sehat Sebagai Ujian

Print PDF

bioterra-healthy-life

Ketika mendengar kata “ujian”, di benak kita biasanya terbayang hal-hal yang tidak mengenakkan, semacam kekurangan harta, kegagalan dalam usaha, ditinggal mati suami atau istri, terkena PHK, tidak kunjung dikaruniai anak keturunan, atau sakit.padahal, beragam kesenangan hidup pun adalah sebentuk ujian yang lebih sulit daripada ujian kesusahan. Mengapa dikatakan lebih sulit,? Ketika sakit misalnya, kesadaran kita akan hadirnya ujian biasanya lebih besar. Kita pun tidak punya banyak pilihan kecuali bersabar, yaitu bersabar untuk tidak berputus asa, bersabar dalam mencari kesembuhan, bersabar dalam menahan diri dari hal-hal bisa memperparah sakit, bersabar untuk tidak berburuk sangka kepada Allah Ta’ala. Lain halnya dengan sehat, kesadaran kita akan hadirnya ujian biasanya sangat minim, bahkan tidak ada, sehingga kita sering gagal dalam menjalani ujian tersebut. Ketika sehat kita dihadapkan banyak pilihan, apakah mau memanfaatkan kesehatanuntuk kebaikan atau memanfaatkan kesehatan tersbut untuk keburukan dan beragam hal yang sia-sia. Ingatan akan kematian pun seringkali tidak ada. Akibatnya, peluang untuk khusnul khatimah tidak sebesar ketika kita sakit.

Hadirnya sehat sebagai ujian dapat dirujuk pada surah Al-Mulk, 67:2. Allah Ta’ala berfirman, “(Allah-lah) yang menjadikan mati da hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS Al-Mulk, 67:2). Ayat yang mulia ini dengan jelas menyebutkan bahwa hidup, beserta segala dimensinya; termasuk nikmat sehat, adalah sebentuk ujian. Ujian apa? Dengan sehat tersebut, Allah Ta’ala menguji siapa diantara kita yang paling baik amalnya. Jadi, seseorang dianggap lulus dari ujian kesehatan apabila dengan sehat tersebut dia bisa optimal dalam beramal, bisa berkontribusi sebanyak-banyaknya bagi kemanusiaan, bisa membawa manfaat bagi sesama, dan segala hal yang tidak mungkin bisa dilakukan dalam kondisi sakit. Akhirnya, dia bisa pulang kepada Allah dengan membawa amal-amal terbaik yang layak dipersembahkan kepada-Nya.

Sehat Sebagai Amanah

Print PDF

probioterra-sehat-itu-amanah

Selain sebagai nikmat dari Allah Ta’ala, kesehatan adalah sebentuk amanah yang harus kita pertanggungjawabkan kepada Zat Yang Memberi amanah tersebut. Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasalam mengingatkan, “Hal yang pertama kali ditanyakan kepada seorang hamba dari kenikmatan-kenikmatan Allah kelak pada hari Kiamat ialah ucapan, ‘Bukankah telah kami berikan kesehatan pada tubuhmu dan kami berikan air minum yang sejuk?’ (HR. Tirmidzi).

Dalam hadist lain, Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasalam pun bersabda, “ Tidak akan bergerak kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dimintai pertanggung jawaban tentang empat perkara, tentang umurnya kemana dia habiskan, tentang ilmunya yang mana saja yang telah dia amalkan, tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan kemana dia belanjakan dan tentang badannya (kesehatannya) untuk apa dia pergunakan.” (HR. Tirmidzi)

Kita dituntut untuk menjaga vitalitas diri agar dapat menjalankan fungsi kita sebagai khalifah dimuka bumi dengan sebaik-baiknya. Tanpa tubuh dan jiwa yang sehat, kita tidak akan berperan optimal dalam membangun peradaban. Hilang kesehatan bukan hanya menghambatkontribusi positif seseorang bagi masyarakatnya, tetapi bisa menjadi beban bagi orang lain, khususnya orang-orang terdekat. Apabila seorang suami sakit, keluarganya, anak istrinya, tempat kerjanya, sedikit banyak akan terkena imbas dari sakitnya tersebut. Apabila seorang istri sakit, suami dan anak-anak biasanya akan ikut menderita dan kesusahan. Dengan demikian, merusak atau mengabaikan kesehatan dapat dikategorikan perbuatan dosa (dzalim terhadap diri sendiri). Pelakunya dapat dianggap telah mengkufuri nikmt. Dari sini kita bisa memahami kalua berobat adalah sebuah kewajiban, sebuah ikhtiar untuk mendapatkan keridhaan Allah Ta’ala. “Wa idza maridhtu fa huwa yasyfiin; dan apabila aku sakit, Dialah(Allah) yang menyambuhkanku”, demikian doa Nabi Ibrahim yang diabadikan dalam QS Asy-Syu’ara, 26:80. Idealnya, kita tidak hanya berikhtiar dengan berobat dan berdoa memohon kesembuhan, kita pun layak memperbanyak tobat kepada Allah Ta’ala, terlebih kalua sakit tersebut terjadi akibat perilaku kuta yang buruk.

Tidak hanya itu, dalam kondisi sehat pun, kita diwajibkan untuk melakukan langkah-langkah yan bersifat pencegahan terhadap datangnya penyakit, semisal pengaturan diet yang tepat, menjaga dan memelihara kebersihan pribadi dan lingkungan, menjauhi penyakit hati, manajemen emosi(kemarahan), dan segala sesuatu yang dapat merusak kesehatan, baik fisik maupun mental kejiwaan.


Sehat Sebagai Anugerah

Print PDF

sehat-adalah-anugerah

Kesehatan bukanlah suatu hal yang biasa-biasa saja sehingga layak diabaikan atau dianggap sebelah mata. Kesehatan adalah sebuahanugerah yang dikaruniakan oleh ALLAH Ta’ala kepada manusia. Bahkan kesehatan dianggap sebagai hadiah dari-Nya, ni’matus-shihat wal faragh (HR Bukharai). Dalam urutan-urutan nikmat pun, kesehatan dianggap anugerah paling utama setelah keimanan atau ketauhidan itu sendiri sehingga Rasulullah sallahu’alaihi wasallam. Menganjurkan kita untuk berdo’a agar dikaruniai kesehatan. Beliau bersabda, “Mohonlah kepada Allah kesehatan (keselamatan). Sesungguhnya karunia yang lebih baik sesudah keimanan adalah kesehatan (keselamatan).” (HR Ibnu Majah).

Namun demikian, manusia kerap melupakannikmat yang satu ini. Dia menganggap kesehatan sebagai hal yang biasa, hal yang sudah selayaknya ada pada dirinya. Akibatnya, dia tidak peduli dengan konsekuensi dan tanggung jawab dari hadirnya kesehatan. Itulah mengapa Rasulullah sallahu’alaihi wasalla, mengingatkan tentang adanya dua nikmat besar yang seringkali dilupakan atau malah memperdaya manusia, yaitu nikmat kesehatan dan kesempatan. “Ada dua kenikmatan yang membuat banyak orang terpedaya, yaitu nikmat kesehatan dan kesempatan (waktu luang).” (HR Bukhari).

Manusia biasanya baru tersadar apabila salah satu atau keduanya telah hilang dari genggaman. Ambil contoh, kita baru sadar akan pentingnya gigi ketika kita sakit gigi atau ketika sudah ompong. Kita baru paham akan besarnya manfaat kaki ketika kaki kita sakit sehingga tidak bias berjalan, dan sebagainya. Demikian pula kesempatan, dia berkaitan erat dengan momen atau waktu tertentu dalam kehidupan. Kita baru menyadari urgensinya ketika kesempatan atau waktu tersebut telah hilang dari hadapan tanpa meninggalkan sesuatu yang berkesan. Padahal, kesempatan tidak akan pernah terulang dua kali.

Kegagalan kita dalam mensyukuri nikmat Allah berupa kesehatan, pada akhirnya akan membawa malapetaka, kesialan, kesengsaraan dalam hidup, baik hidup yang sebentar (di dunia) maupun hidup yang kekal (di akhirat). Al-Quran pun mengungkapkan kenyataan ini secara tersirat. “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih’.” (QS Ibrahim, 14:7).

Jika demikian adanya, tidak ada jalan lain bagi kita selain berusaha mensyukuri nikmat kesehatan seoptimal mungkin. Sesungguhnya, inilah jalan satu-satunya cara untuk mendapatkan manfaat yang berlipat dan terhindar dari kufur nikmat.

Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk mensyukuri nikmat sehat, antara lain dengan menjaga dan memelihara nikmat sehat sesuai dengan petunjuk dari Allah dan rasul-Nya, dan memanfaatkannya untuk meraih keridhoan-Nya. Makna “menjaga” dan “memelihara” cakupannya sangat luas. Salah satu di antaranya adalah dengan tidak menjerumuskan dari pada hal-hal yang dapat mengundang sakit, penderitaan, cacat, atau kematian yang tidak sesuai dengan perintah Allah dan rasul-Nya, semisal mengkonsumsi minuman keras, naarkoba, balapan liar, pergaulan bebas, berkelahi karena memperturutkan nafsu, mentato tubuh, mengubah-ubah atau memodifikasi anggota tubuh yang tidak layak untuk diubah, melakukan tindak kekerasan, dan aneka kegiatan destruktif lainnya. Didalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala mengecam Bani Israil yang dengan sengaja mendustakan nikmat Allah dan menukarnya dengan sesuatu yang buruk. “Berapa banyak nya tanda-tanda (kebenaran) yang nyata, yang telah kami berikan kepada mereka; dan barangsiapa yang menukar nikmat Allah setelah datang nikmat itu kepadanya, maka sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya.” (QS Al-Baqarah, 2:211)

Rasulullah sallahu’alaihi wasallam bersabda, “seorang yang bertakwa boleh-boleh saja kaya, tetapi baginy kesehatan lebih baik dari kekayaan (harta benda), dan (ketahuilah) bahwa ketenangan jiwa, lebih baik dari kenikmatan apapun.” (HR Ahmad, Ibnu Majah).

Maka, “Barangsiapa yang pagi harinya merasa aman, tubuhnya sehat, dan memiliki makanan pokok untuk hari itu, seakan-akan dia memiliki dunia dengan segala isinya.” (HR Tirmidzi).

Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk memohon ‘afiyah kepada Allah Ta’ala, sebagaimana yang beliau sabdakan, “Mohonlah kepada Allah keselamatan dan ‘afiyat. Tiada suatu pemberian pun yang lebih baik, setelah iman, daripada ‘afiyah.” (HR Ibnu Majah).

Mengapa harus iman dan ‘afiyah? Ibnul Qayyim Al-Jauziyah mengungkapkan, “Ketahuilah, kebaikan seorang hamba di dunia dan akhirat tidak akan sempurna kecuali dengan iman dan ‘afiyah akan menjauhkan dia dari penyakit dunia, baik penyakit yang ada dalam hati maupun yang ada dalam tubuh.

Review Buku “CARA HIDUP SEHAT ISLAMI”

Print PDF

resensi-cara-hidup-sehat-islami

 

Data Buku:
Judul: Cara Hidup Sehat Islami (CHSI)
Penulis: Dr. dr. Tauhid Nur Azhar, MSi.Med
Penulis pendamping: Emsoe Abdurrahman & Ulal Mualifah
Jumlah halaman & ukuran: viii + 460 hlm; 15x23 cm (hard cover)
Tahun terbit: 2015
Penerbit: Tasdiqiya Publisher bekerjasama dengan Bio Terra
Harga normal: Rp. 123.000,00

Manusia adalah mahakarya Zat Yang Mahakuasa. Inilah makhluk adiluhung yang dikaruniai pendengaran, penglihatan, dan kecerdasan yang terpandu ruh suci. Inilah makhluk yang setiap bagian dari tubuhnya saling bersinergi dan berinteraksi untuk menjalankan berbagai fungsi. Inilah makhluk dengan tubuh dan jiwanya yang sempurna sebagai masterpiece dari Ilahi.
Dengan beragam potensi fitrah itu, apa yang menjadi tugas seorang manusia? Bersyukur, bersabar, dan ikhlas menjaga serta memelihara tubuh, jiwa, dan hati yang telah Dia hadirkan.
Maka, untuk menjawab beragam pertanyaan tentang bagaimana menjaga dan mengoptimalisasi fungsi tubuh secara menyeluruh, buku Cara Hidup Sehat Islami (CHSI) ini pun kami hadirkan. Besar harapan, buku ini bisa menjadi bagian dari proses mensyukuri nikmat kehidupan dan kesehatan sebagai karunia terindah dari Allah Ar-Rahman.

Sekilas Penulis:
Tauhid Nur Azhar lahir di Bandung, 16 September 1970, mengenyam pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip), Program Pascasarjana Ilmu Biomedik Undip, Program Pendidikan Patobiologi di FKUI, diundang mengikuti Program Pendidikan Pra Doktoral di UGM, mendapat beasiswa QUE Project dari World Bank, diundang mengikuti program Ph.D di Departemen Mikrobiologi dan Imunologi UKM, diundang menjadi komunitas pemerhati sains dan teknologi di MIT, menjadi anggota AAS dan IBRO (komunitas sains/ akademisi internasional), belajar manajemen secara formal dan non formal.

Kang Tauhid adalah penulis 40 buku sains popular bergenre spiritual, narasumber dan instruktur di Kementerian PU, Keuangan, Perhubungan, Badan Tenaga Atom Nasional (Batan), Telkom, Telkomsel, Indosat, PT. Timah, Bank Mandiri, Garuda Indonesia, dan sebagainya. Pengajar tamu di berbagai perguruan tinggi. Mentor tim imagine Cup Microsoft di USA dan Australia. Idea generator untuk beberapa aplikasi mobile di platform Android (Food Print, Brain Pedia, Anaqu, Kolecer, dan lain-lain). Pencipta lirik dan Pembina ensembel serta penulis naskah drama musikal. Penggemar traveling dan penikmat keindahan serta kelezatan karunia Allah Ta’ala.

Sehat Menurut Pandangan Islam

Print PDF

bioterra-cara-sehat-islami

 

Islam tidak memandang manusia hanya dari satu aspek saja, semisal fisisk, tetapi juga aspek ruhani, mental psikologis dan juga sebagai makhluk social. Dengan demikian, komponen kesehatan pada manusia pun selayaknya mencakup empat bagian ini, yaitu kesehatan fisik (ash-shihat al-jasad), kesehatan ruhani (ash-shihat ar-ruhhiyah), kesehatan metal psikologis (ash-shihat an-nafsiyyah), dan kesehatan sosial.

Kesehatan fisik biologis ditandai dengan optimalnya fungsi-fungsi fisiologis tubuh manusia sesuai fitrah penciptaannya. Kesehatan ruhiyah ditandai dengan harmonisnya hubungan dengan Al-Khaliq yang kemudian berimbas positif pada jalinan hubungan dengan sesama manusia dan lingkungannya. Kesehatan psikologis ditandai dengan hadirnya kemampuan untuk “berdamai” dengan diri sendiri dan lingkungan sosial disekitarnya. Adapun kesehatan dalam makna sosial ditandai dengan terjalinnya hubungan harmonis didalam lingkungan sosial yang melibatkan hubungan untuk saling memberi dan menerima.

Keempat komponen kesehatan ini antara satu sama lain saling berhubungan dan mempengaruhi. Hadirnya masalah pada salah satu komponen akan mempengaruhi komponen yang lain sehingga lahirlah disequilibrium atau ketidak seimbangan. Seseorang yang ruhaninya sakit, lambat laun fisiknya akan ikut sakit, pun juga dengan psikologis dan hubngan sosialnya. Jika salah seorang anggota keluarga sakit, apalagi sakitnya masuk dalam katagori berat, seluruh anggota keluarga pun akan terpengaruh , minimal secara psikologis.

Oleh karena itu, islam sangat menekankan tercapainya keseimbangan dan harmoni dari keempat komponen tersebut didalam diri pemeluknya.semua sebab yang dapat melahirkan keseimbangan dan harmoni menjadi sesuatu yang diperintahkan. Sebagai contoh, hadirnya kesehatan fisik sangat ditentukan oleh optimal tidaknya proses metabolism didalam tubuh. Adapun optimalnya proses metabolisme itu sangat ditentukan oleh berkualitas tidaknya pola makan. Maka, menjalankan pola makan yang baik dan benar menjadi suatu hal yang layak untuk dipenuhi, termasuk yang terkait dengan jenis makanan, komposisi gizi yang dikandungnya, jumlah makanan dan kapan makanan tersebut dikonsumsi. Islam memberikan panduan yang lengkap terkait masalah ini, diantaranya melalui beragam sunnah Rasulullah sallahu’alaihi wasallam yang mengatur tentang pelaksanaan pola makan.

Demikian halnya dengan kesehatan mental kejiwaan. Komponen yang satu ini terkait erat dengan bagaimana kita menjalani hidup beserta beragam masalah didalamnya, bagaimana kita mengelola pikiran, bagaimana menjalin komunikasi yang harmonis, baik secara intrapersonal atau interpersonal, bagaimana mengelola stress dan lainnya. Dalam konteks ini pun, Islam telah memberikan panduan lengkap yang menunggu untuk kita aplikasikan dalam kehidupan, semisal konsep sabar, syukur, tawakkal, tawadhu’ dan lainnya.

Sumber:
Buku “Cara Hidup Sehat Islami”, oleh: Dr. dr. Tauhid Nur Azhar, MSi.Med

Social Media

Fanspage-banner1  Fanspage-banner2
Fanspage-banner3  Fanspage-banner4
Fanspage-banner5  Fanspage-banner6

Hubungi Kami

mail              : admin@probioterra.com / cs@probioterra.com / marketing@probioterra.com / e-marketing@probioterra.com


Jam Kerja          : 08.00 - 16.00 WIB (Senin-Sabtu)

 

SMS Info Resmi (No Reply)
0815-1961-8712