• image
  • image
  • image
  • image

Sehat Sebagai Anugerah

Print PDF

sehat-adalah-anugerah

Kesehatan bukanlah suatu hal yang biasa-biasa saja sehingga layak diabaikan atau dianggap sebelah mata. Kesehatan adalah sebuahanugerah yang dikaruniakan oleh ALLAH Ta’ala kepada manusia. Bahkan kesehatan dianggap sebagai hadiah dari-Nya, ni’matus-shihat wal faragh (HR Bukharai). Dalam urutan-urutan nikmat pun, kesehatan dianggap anugerah paling utama setelah keimanan atau ketauhidan itu sendiri sehingga Rasulullah sallahu’alaihi wasallam. Menganjurkan kita untuk berdo’a agar dikaruniai kesehatan. Beliau bersabda, “Mohonlah kepada Allah kesehatan (keselamatan). Sesungguhnya karunia yang lebih baik sesudah keimanan adalah kesehatan (keselamatan).” (HR Ibnu Majah).

Namun demikian, manusia kerap melupakannikmat yang satu ini. Dia menganggap kesehatan sebagai hal yang biasa, hal yang sudah selayaknya ada pada dirinya. Akibatnya, dia tidak peduli dengan konsekuensi dan tanggung jawab dari hadirnya kesehatan. Itulah mengapa Rasulullah sallahu’alaihi wasalla, mengingatkan tentang adanya dua nikmat besar yang seringkali dilupakan atau malah memperdaya manusia, yaitu nikmat kesehatan dan kesempatan. “Ada dua kenikmatan yang membuat banyak orang terpedaya, yaitu nikmat kesehatan dan kesempatan (waktu luang).” (HR Bukhari).

Manusia biasanya baru tersadar apabila salah satu atau keduanya telah hilang dari genggaman. Ambil contoh, kita baru sadar akan pentingnya gigi ketika kita sakit gigi atau ketika sudah ompong. Kita baru paham akan besarnya manfaat kaki ketika kaki kita sakit sehingga tidak bias berjalan, dan sebagainya. Demikian pula kesempatan, dia berkaitan erat dengan momen atau waktu tertentu dalam kehidupan. Kita baru menyadari urgensinya ketika kesempatan atau waktu tersebut telah hilang dari hadapan tanpa meninggalkan sesuatu yang berkesan. Padahal, kesempatan tidak akan pernah terulang dua kali.

Kegagalan kita dalam mensyukuri nikmat Allah berupa kesehatan, pada akhirnya akan membawa malapetaka, kesialan, kesengsaraan dalam hidup, baik hidup yang sebentar (di dunia) maupun hidup yang kekal (di akhirat). Al-Quran pun mengungkapkan kenyataan ini secara tersirat. “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih’.” (QS Ibrahim, 14:7).

Jika demikian adanya, tidak ada jalan lain bagi kita selain berusaha mensyukuri nikmat kesehatan seoptimal mungkin. Sesungguhnya, inilah jalan satu-satunya cara untuk mendapatkan manfaat yang berlipat dan terhindar dari kufur nikmat.

Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk mensyukuri nikmat sehat, antara lain dengan menjaga dan memelihara nikmat sehat sesuai dengan petunjuk dari Allah dan rasul-Nya, dan memanfaatkannya untuk meraih keridhoan-Nya. Makna “menjaga” dan “memelihara” cakupannya sangat luas. Salah satu di antaranya adalah dengan tidak menjerumuskan dari pada hal-hal yang dapat mengundang sakit, penderitaan, cacat, atau kematian yang tidak sesuai dengan perintah Allah dan rasul-Nya, semisal mengkonsumsi minuman keras, naarkoba, balapan liar, pergaulan bebas, berkelahi karena memperturutkan nafsu, mentato tubuh, mengubah-ubah atau memodifikasi anggota tubuh yang tidak layak untuk diubah, melakukan tindak kekerasan, dan aneka kegiatan destruktif lainnya. Didalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala mengecam Bani Israil yang dengan sengaja mendustakan nikmat Allah dan menukarnya dengan sesuatu yang buruk. “Berapa banyak nya tanda-tanda (kebenaran) yang nyata, yang telah kami berikan kepada mereka; dan barangsiapa yang menukar nikmat Allah setelah datang nikmat itu kepadanya, maka sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya.” (QS Al-Baqarah, 2:211)

Rasulullah sallahu’alaihi wasallam bersabda, “seorang yang bertakwa boleh-boleh saja kaya, tetapi baginy kesehatan lebih baik dari kekayaan (harta benda), dan (ketahuilah) bahwa ketenangan jiwa, lebih baik dari kenikmatan apapun.” (HR Ahmad, Ibnu Majah).

Maka, “Barangsiapa yang pagi harinya merasa aman, tubuhnya sehat, dan memiliki makanan pokok untuk hari itu, seakan-akan dia memiliki dunia dengan segala isinya.” (HR Tirmidzi).

Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk memohon ‘afiyah kepada Allah Ta’ala, sebagaimana yang beliau sabdakan, “Mohonlah kepada Allah keselamatan dan ‘afiyat. Tiada suatu pemberian pun yang lebih baik, setelah iman, daripada ‘afiyah.” (HR Ibnu Majah).

Mengapa harus iman dan ‘afiyah? Ibnul Qayyim Al-Jauziyah mengungkapkan, “Ketahuilah, kebaikan seorang hamba di dunia dan akhirat tidak akan sempurna kecuali dengan iman dan ‘afiyah akan menjauhkan dia dari penyakit dunia, baik penyakit yang ada dalam hati maupun yang ada dalam tubuh.

Social Media

Fanspage-banner1  Fanspage-banner2
Fanspage-banner3  Fanspage-banner4
Fanspage-banner5  Fanspage-banner6

Hubungi Kami

mail              : admin@probioterra.com / cs@probioterra.com / marketing@probioterra.com / e-marketing@probioterra.com


Jam Kerja          : 08.00 - 16.00 WIB (Senin-Sabtu)

 

SMS Info Resmi (No Reply)
0815-1961-8712